rangkum.id

Inspiratif & Edukatif

Permainan Gejog Lesung (Bagian II)

3 min read
Kaum Ibu di Kaki Langit Mangunan sedang memainkan Gejog Lesung (dok: Hendrawardhanai)

Kaum Ibu di Kaki Langit Mangunan sedang memainkan Gejog Lesung (dok: Hendrawardhanai)

RANGKUM.ID – Sejak dahulu, ketika lesung menjadi satu-satunya alat penumbuk padi, permainan musik lesung biasa dimainkan oleh masyarakat agraris, termasuk masyarakat Jawa yang menyebutnya “gejog lesung”. Permainan lesung merupakan ekspresi kegembiraan para petani atas melimpahnya hasil panen (padi) dan sekaligus ungkapan syukur kepada Dewi Sri yang dipercayai sebagai Dewi Padi.

Di sela-sela kesibukan menumbuk padi atau sesudahnya para petani memainkan lesung sambil menyanyikan tembang-tembang jawa. Kemeriahan desa oleh semaraknya suara lesung serta kegembiraan para petani yang sedang bergotong royong menumbuk padi digambarkan oleh Ki Nartosabdo, seorang seniman wayang, dalam tembang “Lesung Jumengglung” yang diciptakannya pada era 70-an.

Zaman dahulu masyarakat perdesaan juga memainkan gejog lesung untuk melepas lelah seraya bergembira di malam hari terutama ketika purnama atau terang bulan (dalam bahasa Jawa disebut padang bulan). Tabuhan lesung juga dimainkan anak-anak sebagai hiburan sekaligus mengiringi berbagai macam permainan di luar rumah di bawah terang bulan.

Berangkat dari mitos “Batara Kala” yang dikisahkan turun-temurun, masyarakat memainkan “gejog lesung” saat terjadi Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan. Namun, seiring berkembangnya tingkat pendidikan masyarakat, mitos yang melatarbelakangi permainan “gejog lesung” tersebut sudah banyak ditinggalkan. Kini, permainan gejog lesung saat terjadi gerhana semata-mata dilakukan merupakan kegiatan berkesenian dan hanya dimaksudkan sebagai hiburan. Gejog Lesung juga dimainkan sebagai musik pengiring dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa, seperti ruwatan dan saparan.

 

Seni Gejog Lesung di Daerah Lain

Seni pertunjukan “gejog lesung” seperti yang ada dalam masyarakat jawa ternyata juga berkembang di berbagai daerah lain di Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris. Meskipun demikian nama yang digunakan berbeda-beda seturut bahasa daerah setempat.

Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang masih berdekatan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, digunakan nama yang sama, yaitu “Gejog Lesung”. Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dikenal dengan nama “Gejlok Lesung”. Di Jawa Barat disebut “Lisung”; di Jawa Timur dikenal sebagai “Seni Lesung”; di Sumatera Barat namanya “Gandang Lasuang”; sedangkan masyarakat Bugis di Wajo, Sulawesi Selatan menyebutnya musik “Padéndang Ogi”.

 

Upaya Pelestarian

Modernisasi pertanian, terutama kehadiran mesin “selep” penggiling/pengupas padi, membuat para petani di perdesaan tidak lagi melakukan kegiatan menumbuk padi. Sebagian petani bahkan telah menjual lesungnya kepada kolektor barang antik. Sebagai dampaknya, kebiasaan memainkan “gejog lesung” yang biasanya marak di musim panen perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan berpotensi mengalami kepunahan.

Pemerintah setempat dan berbagai kelompok masyarakat salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan beragam upaya untuk melestarikan kesenian “Gejog Lesung Yogyakarta”. Di antaranya dengan membangkitkan minat masyarakat, terutama generasi muda, melalui sosialisasi dan pelatihan. Salah satu maestro gejog lesung yang sering diundang dalam pelatihan dan berbagai acara terkait adalah Raijo, penduduk Dukuh Panggang, Desa Giriharjo, Gunung Kidul.

Upaya pelestarian lain adalah penyelenggarakan lomba atau festival gejog lesung hingga ke tingkat kabupaten dan provinsi, secara berkala atau rutin (setahun sekali). Contohnya, “Festival Padhang Bulan” di Kabupaten Kulonprogo dan “Festival Gejog Lesung (Istimewa)” se-DIY yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY.

Jadi, pada masa sekarang “Gejog Lesung Yogyakarta” dimainkan sebagai kegiatan budaya atau berkesenian kapan saja diinginkan–menyambut musim panen; saat terang bulan atau terjadi gerhana; dalam festival kesenian daerah; acara bersih desa; upacara adat; upacara penyambutan tamu; dan sebagainya. “Gejog Lesung” juga menjadi salah satu seni pertunjukan yang ditampilkan di desa wisata yang belakangan banyak dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada tahun 2018 “Gejog Lesung Yogyakarta” telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor registrasi 201800705.

 

(sumber: wikipedia)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *