rangkum.id

Inspiratif & Edukatif

Gejog Lesung Jangan Usang

2 min read

RANGKUM.ID – Gejog Lesung adalah kesenian tradisional berupa permainan instrumen musik perkusi menggunakan alat penumbuk padi tradisional (lesung dan alu/antan) yang berkembang dalam masyarakat agraris di berbagai kabupaten di wilayah jawa, salah satunya di Kabupaten Bojonegoro.

Gejog Lesung dimainkan oleh 4 hingga 5 orang atau lebih tergantung besar lesung yang digunakan. Secara bergantian mereka memukuli lesung dengan alu/antan pada bagian atas, samping, tengah, atau tepat pada bagian cekungan sedemikian rupa sehingga menimbulkan suara “thok thek thok thek” bersahut-sahutan yang berirama unik sekaligus indah.

Seiring irama pukulan para penabuh lesung dan/atau kelompok lain akan menyanyikan lagu atau tembang Jawa sambil menari. Tembang-tembang yang dilantunkan biasanya bernuansa agraris, seperti Wulung Kelalang, Caping Gunung, Emprit Neba, dan Ayam Ngelik.

Asal – Usul

Dalam Bahasa Jawa, “gejog” atau “kothekan” artinya memukul. Sementara “lesung” merujuk pada alat pertanian berupa wadah untuk menumbuk padi. Lesung terbuat dari kayu gelondong yang dipahat hingga berceruk atau berongga seperti bentuk perahu. Alu/antan adalah alat penumbuk padi berupa batang kayu panjang dengan diameter seukuran genggaman tangan orang dewasa. Permainan lesung kemudian juga disebut “gejog” atau “kothekan”.

Kesenian “Gejog Lesung” yang telah dikenal turun-temurun selama ratusan tahun diyakini bermula dari suatu mitos ataupun legenda yang ada di lingkungan masyarakat agraris. Setidaknya ada dua cerita rakyat setempat mengenai mitos ataupun legenda yang terkait dengan permainan “gejog lesung”.

Pertama, mitos tentang raksasa jahat bernama Lembu Culung (Batara Kala) yang dihukum oleh Batara Wisnu. gembung (tubuh) dan kepala raksasa terpisah oleh “Cakra” senjata sakti Batara Wisnu. Tubuhnya jatuh ke bumi dan berubah menjadi lesung.

Sementara kepalanya justru jatuh ke air suci sehingga hidup abadi dan kemudian melayang-layang di angkasa menelan berbagai benda.

Sejumlah pria dewasa tampak kualahan saat lesung hendak di pindahkan. Lokasi foto di Desa Klampok, Kapas, Bojonegoro. (Foto: Istimewa)

Konon, gerhana terjadi karena matahari/bulan ditelan oleh mulut dari kepala raksasa jahat tersebut. Penduduk bumi memukuli lesung “tubuh jadi-jadian” si raksasa agar ia memuntahkan kembali matahari/bulan sehingga gerhana pun akan berakhir.

Kedua, legenda terjadinya Candi Sewu dan Candi Prambanan. Untuk menolak lamaran Bandung Bondowoso, si Roro Jonggrang memintanya membangun seribu Candi dalam waktu satu malam. Berkat kesaktian dan bantuan para jin Bandung Bondowoso nyaris berhasil menyelesaikan seribu candi, tetapi gagal karena mendadak suasana tampak benderang dan terdengar suara lesung bertalu-talu disertai kokok ayam bersahut-sahutan tanda fajar telah tiba. Sebenarnya hari masih malam. Suasana fajar terjadi karena muslihat Roro Jonggrang yang meminta para petani membakar jerami serta memainkan “gejog lesung”.

“Gejog Lesung” juga dikaitkan dengan sejarah masuknya seni ketoprak ke Yogyakarta sekitar abad XX. Karena dimainkan dengan iringan “gejog lesung” ketoprak yang diciptakan oleh Pangeran Wreksadiningrat (dari Kepatihan Surakarta) ini dikenal sebagai “Ketoprak Lesung”. Kesenian “Ketoprak Lesung” kemudian berkembang menjadi “Ketoprak Mataram” yang diiringi gamelan jawa lengkap.

(sumber: wikipedia)

Bagikan

2 thoughts on “Gejog Lesung Jangan Usang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *